Kadang nasib orang di luar dugaan karena kalau Yang Maha Kuasa sudah menentukan masa depannya ke arah yang lebih baik lagi, tidak akan menunggu waktu lama dan pasti datang secara tiba-tiba. Memang kalau dipikir secara nalar masa depan yang baik dan mendadak itu mungkin tidak kesampaian. Seseorang butuh program jelas dan usaha yang tak kenal lelah untuk menggapai cita-citanya.

Mustafa Ali pemilik batik Sari Kencana
Sosok pengusaha Usaha Kecil Menengah(UKM), Mustafa Ali, adalah salah satu dari sekian banyak orang yang diberi barokah oleh Allah SWT. Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, lelaki asal Jember ini berkutat dengan bisnisnya sebagai pengrajin batik "Sari Kencana".
Tapi dalam kurun waktu tersebut usahanya belum menemukan titik terang. Kadang mengalami kenaikan dalam jumlah produk penjualannya tapi di lain waktu ia harus menerima kenyataan karena pasar kurang memberikan respon. "Saya mulai bangkit sejak mendapatkan bantuan dari PLN setahun yang lalu," akunya kepada INFODIS yang menemui di kantor APJ Jember beberapa waktu yang lalu.
Secara terbuka pula dikemukakan jumlah bantuan sebesar Rp 17,5 juta dari perusahaan BUMN yang mengurusi listrik itu digunakan untuk membeli bahan baku sebanyak-banyaknya karena untuk fasilitas yang lain ia sudah memiliki. "Kalau tidak dibelikan bahan baku, saya takut nanti mengalami kenaikan," tuturnya sembari menambahkan kalau bahan baku kebanyakan dibelinya dari 2 kota yakni Pekalongan dan Solo.
PLN, lanjutnya, tidak saja memberikan bantuan kepadanya tetapi juga memberikan pembinaan dan ikut memasarkan produknya. Dan untuk sementara memang sebagian karyawan saja yang telah memesan batik untuk dipakai dalam waktu-waktu tertentu. "Bantuan PLN saya anggap luar biasa," tegas suami dari Supmiyati ini.
Sejak mendapatkan bantuan pada tahun 2009 yang lalu, usahanya terus mengalami kenaikan. Bahkan dari hasil informasi karyawan PLN ke instansi lain, pihaknya juga mendapatkan order dari pemerintah setempat dan juga dari anggota dewan yang ada di DPRD Jember.
Mendapat angin segar kalau pemasaran produk batiknya mulai laris manis, ia terus berupaya mengembangkan ke kota-kota lain mulai Malang, Jakarta dan sebagian kota di Kalimantan. Saat ini omzet dari produsen batik "Sari Wangi" itu sudah mencapai Rp 80 jutaan perbulan. Sedangkan harga batik yang dilempar ke pasaran bervariasi dari harga paling murah Rp 70 ribu(kain biasa), Rp 200 ribu(katon) hingga Rp 400 ribu(sutera).
Kemudian setiap harinya produsen tersebut bisa menyelesaikan puluhan potong. Untuk batik dengan katagori standard bisa menghasilkan minimal 40 potong, dan yang baik 22 potong serta yang super bisa 1 potong dalam seminggu.
Sementara itu motif batik yang ditawarkan kebanyakan berciri khas daerah yakni bergambar daun tembakau dengan macam-macam warna sesuai dengan pesanan pembeli. Bahkan kini pihaknya terinspirasi memunculkan motif tradisional yang pernah booming yakni motif lama(ikel). Ternyata pasar merespon motif ikel sehingga ia berani memperbanyak produk tersebut.

Pegawai Batik Sari Kencana memampilkan salah satu produk batiknya
Kini pihaknya sudah bisa merangkul puluhan orang yang ada di desanya dan desa sekitar untuk membantu usahanya. Jumlah karyawan "Sari Wangi" sekarang tercatat ada 12 orang, tetapi tenaga lain dari luar lebih dari 86 orang. Mereka yang ada di luar mengerjakan produk "Sari Wangi" di rumah masing-masing setelah jadi disetorkan ke rumah Mustofa Ali yang juga sebagai tempat usaha dan kantor.
Menurut lelaki yang sudah dikaruniai 3 putra ini, sebelumnya ia adalah seorang tani dan mempunyai kesibukan lain sebagai pengurus Badan Pekerja Desa(BPD). Pada tahun 1999 hatinya tergerak setelah melihat warga di 2 dusun di desanya, banyak yang menganggur.
Dengan berbekal pengalaman kedua orang tuanya sebagai pengrajin batik, ia mulai merintis usaha yang sama tetapi baru kecil-kecilan. Usahanya jatuh bangun dan baru bersinar setelah mendapatkan modal dan binaan dari PLN pada 2009 yang lalu. Kini di desanya sudah muncul pengrajin-pengrajin serupa untuk memajukan masyarakat terutama mereka yang belum mempunyai pekerjaan.
Ali berharap pihaknya mendapatkan bantuan lagi dari PLN karena ia sudah bertekad ingin membuka lapangan kerja di daerahnya. Dengan modal lebih banyak ia optimis masyarakat desa yang dulunya sebagai pengangguran akan mempunyai aktifitas baru untuk dijadikan sebagai karyawan guna membantu bisnisnya.(p)
harapan kami sebagi salah satu pembina usah tentunya PLN tidak hanya nenberikan batuan berupa dana semata, namum perlu turut serta memikirkan pemasaran produk-produknya agar perusahaan tersebut lebih cepat berkembang dan kelak bisa mengembalikan pinjaman lunak tersenut dengan tepat waktu mengingat pasar global sudah diambang pintu, aqpalagi yang namanya bisnis tektil kian pesat persaingannya. thx.